Tampilkan postingan dengan label Cidurian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cidurian. Tampilkan semua postingan
Senin, 26 Januari 2015
(LAPORAN FOTO) Pengembangan Kapasitas dan Potret Pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) di Provinsi Banten
Laporan Foto Pengembangan Kapasitas dan Potret
Pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) di Provinsi
Banten merupakan hasil dokumentasi kunjungan ke
Provinsi Banten pada bulan April dan Oktober 2014.
Tujuan laporan ini untuk memotret kondisi sungai-sungai
yang berada dalam Wilayah Sungai di Provinsi Banten
pada saat kunjungan serta mendokumentasikan
kegiatan program.
Provinsi Banten merupakan salah satu dari empat lokasi
program Capacity Development Technical Assistance
(CDTA) 7849-INO. Program ini merupakan program
Hibah Asian Development Bank (ADB) untuk membantu
pelaksanaan awal rencana aksi pengembangan kapasitas
Ditjen Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan
Umum dan Perumahan Rakyat sejak pertengahan
tahun 2012.
Penyusun dan tata letak : Diella Dachlan
Foto: Deden Iman, Ng Swan Ti
Download: Laporan Foto Pengembangan Kapasitas dan PotretPengelolaan Sumber Daya Air (SDA) di ProvinsiBanten, (PDF 5MB)
(ARTIKEL) Rapat Koordinasi Pemilihan Strategi Pola Untuk Dua Wilayah Sungai di Provinsi Banten
Keterangan foto: (tengah) Pemaparan tentang WS Cibaliung-Cisawarna.
Serang – Pada minggu ketiga bulan Oktober 2014, sebanyak 45 peserta menghadiri acara Rapat Koordinasi Pemilihan Strategi Pola Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) untuk dua wilayah sungai di Provinsi Banten, yang diselenggarakan di Hotel Ratu, Kota Serang pada tanggal 21-22 Oktober 2014.
Acara ini bertujuan untuk membahas dan memilih strategi dari beberapa alternatif yang ada pada rancangan Pola PSDA untuk dua wilayah sungai yaitu Wilayah Sungai Ciliman-Cibungur dan Cibaliung-Cisawarna yang merupakan wewenang Provinsi Banten.
Peserta Rapat Koordinasi ini terdiri dari SKPD/Dinas provinsi dan perwakilan dari tiga kabupaten yaitu Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak. Selain itu juga hadir para pakar nara sumber, pemerhati dan penggiat serta kelompok masyarakat yang terkait dalam pengelolaan SDA.
“Rancangan Pola Perencanaan Wilayah Sungai Ciliman-Cibungur dan Cibaliung-Cisawarna sudah selesai sejak tahun 2012 yang lalu. Rancangan ini sudah melalui proses konsultasi dengan berbagai pihak melalui Pertemuan Konsultasi Masyarakat (PKM) 1 dan 2, namun penetapan Pola-nya belum dilakukan dan kita harapkan untuk segera ditetapkan oleh Gubernur ” kata Deni Mardiyanto, ST, MT (21/10), Kepala Seksi Pengembangan Irigasi, Dinas Sumber Daya Air dan Permukiman Provinsi Banten yang menjadi penyelenggara acara.
“Proses pemilihan strategi ini akan menghasilkan rekomendasi bersama yang akan kita ajukan ke Gubernur untuk kemudian menetapkan Pola melalui Peraturan Gubernur” kata Deni, yang berharap agar proses penetapannya dapat selesai dalam waktu maksimum satu bulan.
Kedua Wilayah Sungai di Provinsi Banten ini juga menjadi lokasi pilot program Capacity Development Technical Assistance (CDTA) 7849-INO, yang merupakan program hibah Asian Development Bank (ADB) untuk pengembangan kapasitas dalam pengelolaan sumber air di Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum. Sehingga Tim Konsultan CDTA 7849-INO ikut membantu Dewan Sumber Daya Air Provinsi Banten, termasuk Dinas Sumber Daya Air dan Permukiman Provinsi Banten dalam persiapan untuk proses penyusunan alternatif pilihan strategi
Selanjutnya Deni menjelaskan bahwa nantinya strategi yang dipilih ini akan menjadi acuan dasar bagi penyusunan Rencana, yang pelaksanaannya segera dimulai untuk dua wilayah sungai Ciliman-Cibungur dan Cibaliung-Cisawarna.
Keterangan foto: (Atas) Searah jarum jam: Nico Darismanto, Konsultan CDTA-7849, Rinto Yuwono, ST MM, Kepala Balai PSDA WS Ciliman Cisawarna, Ir.Tyas Utami Amalia, MM, Sekretaris Dinas SDAP Provinsi Banten dan Isvan Taufik, ST, MT, Kepala Sub-bagian Program Dinas SDA
(Tengah) Peserta acara Pemilihan Strategi Pola Pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) menyimak paparan tentang Pola WS Ciliman-Cibungur dan WS Cibaliung-Cisawarna.
(Bawah) Ir.H.Iing Sawargi, Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Permukiman Provinsi Banten
Air Baku dan Pengendalian Banjir
Ir. H. Iing Sawargi, Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Permukiman Provinsi Banten, mengatakan bahwa pengelolaan sumber daya air di Provinsi Banten tak luput dari berbagai tantangan. Masalah kekeringan, banjir dan pemenuhan kebutuhan air minum bagi masyarakat adalah hal-hal yang mendesak perlu segera ditangani oleh pemerintah provinsi.
Pada saat bersamaan, upaya konservasi juga mendesak untuk perlu segera dilakukan untuk melindungi sumber air termasuk ke dalamnya upaya konservasi daerah tangkapan air dan resapan air. Karenanya, perencanaan wilayah sungai sebagaimana yang terdapat di dalam Pola akan sangat membantu di dalam merencanakan pembangunan sumber daya air yang berkelanjutan.
Dengan potensi sumber daya air di Banten yang cukup besar , sangat memungkinkan untuk terus membangun dan memaksimalkan potensi penggunaan SDA, misalnya untuk irigasi dengan membangun daerah-daerah irigasi baru.
“Untuk pemenuhan kebutuhan air baku, sudah ada rencana untuk membangun waduk Karian dan Bendungan Sindang Heula. Waduk Karian ini nantinya bisa menampung 217 juta meter kubik yang dapat menyuplai air ke daerah Tangerang, Serang dan Cilegon, serta menambah suplai air ke Jakarta.
Sedangkan Bendungan Sindang Heula bisa menampung sekitar 9,2 juta meter kubik air menyuplai air untuk Kabupaten dan Kota Serang” jelas Iing ketika ditemui di kantornya (22/10).
Bendungan Sindang Heula yang berlokasi di Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang akan menggunakan aliran dari Sungai Cibanten. Sedangkan Waduk Karian, yang berlokasi di Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, akan menggunakan sumber air dari tiga sungai, yaitu Sungai Cisimeut, Cibeurang dan Ciujung.
“Kami juga sedang membangun bendung Cihara (Kecamatan Cigemblong, Kabupaten Lebak) yang sedang dalam tahap penyelesaian. Bendung ini nantinya akan bisa mengairi 1.200 hektar sawah dan kita harapkan dapat selesai pembangunannya pada akhir tahun 2014 ini” kata Iing. Selain pengelolaan SDA, Dinas SDA dan Permukiman juga melakukan pekerjaan fisik dan non-fisik di bidang permukiman, yang juga meliputi sanitasi, drainase dan persampahan.
Keterangan foto: (Atas) Sungai Cilamer yang sering banjir, Desa Curug Barang, Kecamatan Cipeucang, Kabupaten Pandeglang. (Bawah) Sungai Cibanten, lokasi untuk pembangunan Bendungan Sindang Heula di Desa Sindang Heula, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang
Pemilihan Strategi Ekonomi Sedang
WS Ciliman-Cibungur terdiri dari 27 DAS dengan luas total 1.750,93 km2 dan potensi air 120 m3/detik. Sedangkan WS Cibaliung-Cisawarna terdiri dari 75 DAS dengan luas total 2.613,37 km2 dan potensi air 122.34 m3/detik. Menurut hasil analisis, potensi air ini dalam jangka panjang masih aman digunakan untuk memenuhi kebutuhan air rumah tangga, perkotaan, industri dan irigasi yang berada di kedua WS ini.
Melalui serangkaian pembahasan, peserta rapat memilih Strategi C, baik untuk WS Ciliman-Cibungur, maupun WS Cibaliung-Cisawarna.
Parameter pertumbuhan ekonomi untuk memilih strategi pada Pola PSDA, yaitu sebagai berikut:
1) Dibawah 5,5% masuk dalam kategori pertumbuhan ekonomi rendah, 2) antara 5,5-6,5% kategori pertumbuhan ekonomi sedang, 3) diatas 6,5% masuk dalam kategori pertumbuhan ekonomi tinggi.
Strategi C mengacu pada skenario pertumbuhan ekonomi sedang dengan pertimbangan pemerintah mendukung percepatan pembangunan bidang sumber daya air di dua WS ini. Strategi ini dinilai sebagai yang paling rasional dan aman terhadap penyediaan anggaran pembangunan dengan asumsi pertumbuhan ekonomi sedang dengan angka pertumbuhan 5,5%-6,5%.
N.P Rahadian pemerhati dan penggiat lingkungan yang hadir dalam acara, mengatakan bahwa posisi Dewan SDA Provinsi Banten perlu diperkuat untuk bisa membantu koordinasi dari berbagai lembaga pengelola sumber daya air di Provinsi Banten.
“Selain itu, program pembangunan SDA perlu lebih meningkatkan keterlibatan dan partisipasi masyarakat secara langsung, terutama untuk bidang konservasi, pendayagunaan air serta pencegahan dan pengendalian daya rusak air” tegas Rahadian.
Label:
7849,
aceh,
ADB,
air,
Banda Aceh,
banten,
Bappeda,
BBWS,
BPSDA,
Cidanau,
Cidurian,
Ciujung,
DAS,
Dewan Sumber Daya Air,
kapasitas,
Kelembagaan,
kementeria pekerjaan umum,
Kerenceng,
SDA
Selasa, 11 November 2014
(ARTIKEL) Pelatihan dan Lokakarya dalam Kegiatan CDTA-7849
Keterangan foto: Bendung Pamarayan, Kecamatan Panyabrangan, Kabupaten Serang, Provinsi Banten (16/4/14)
Sejak pertengahan tahun 2012, kegiatan Capacity Development Technical Assistance (CDTA 7849-INO) menyelenggarakan berbagai lokakarya dan pelatihan terkait pengelolaan sumber daya air bersama bagian Kelembagaan Ditjen Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum.
Peserta lokakarya adalah dinas-dinas terkait pengelolaan SDA
di provinsi dan kabupaten serta anggota TKPSDA Wilayah Sungai yang terdiri dari
unsur pemerintah dan non-pemerintah.
Sedangkan untuk pelatihan teknis, pesertanya adalah Dinas PU provinsi
dan kabupaten serta Balai/Besar Wilayah Sungai (B/BWS) dan perguruan tinggi
melalui Pelatihan Training of Trainer (ToT) untuk menyebarluaskan materi
pelatihan kepada staf lainnya.
Hidrologi dan Perencanaan
Wilayah Sungai
Ir.
Raymond Kemur, MSc, Capacity Development Specialist CDTA, menyebutkan bahwa saat ini kapasitas
staf pemerintah dalam perencanaan pengelolaan SDA di wilayah sungai secara umum
masih rendah. Sehingga perlu
pengembangan kapasitas untuk terus menerus meningkatkan kemampuan di dalam
bidang pengelolaan SDA.
Keterangan foto: Lokakarya Pelatihan Prinsip-Prinsip Perencanaan Wilayah Sungai, Kota Serang, Provinsi Banten (16/4/14)
Menurut Raymond, para staf pemerintah yang menguasai hidrologi umumnya masih terbatas. Jika ada pun, jumlahnya sangat sedikit atau sudah menjelang usia pensiun dan belum ada sistem regenerasi yang terencana. Ilmu hidrologi yang diberikan di perguruan tinggi masih terbatas dan menurut Raymond, belum memadai untuk menjadi bekal dalam menjalankan tugas sehari-hari di bidang pengelolaan sumber daya air.
“Pelatihan paling mendesak adalah pemberian materi hidrologi kepada semua staf, baik staf pemerintah, konsultan dan perguruan tinggi, karena penguasaan ilmu hidrologi yang baik menjadi sangat penting sebagai dasar ilmu SDA” kata Raymond (17/10/14) di Jakarta.
“Selain itu yang paling mendesak adalah keahlian merencanakan pengelolaan SDA Wilayah Sungai, yang hasilnya berupa dokumen Pola dan Rencana” kata Raymond menambahkan.
Selanjutnya Raymond menyebutkan selain itu perlu pengembangan kapasitas bidang-bidang keahlian lainnya seperti sungai dan bendungan, irigasi dan rawa, pengamanan pantai dan pembangkit listrik (micro dan mini hydro serta desain waduk).
Kegiatan CDTA
Keterangan foto: Ir. M. Napitupulu, Dipl. HE, Team Leader CDTA-7849
Menurut Ir. M. Napitupulu, Dipl. HE, Team Leader, dalam ruang lingkup kegiatan CDTA-7849 yang terbatas, tidaklah memungkinkan untuk memberikan seluruh pelatihan yang diperlukan di dalam peningkatan kapasitas pengelolaan SDA.
“Karena itu agar lebih komprehensif, perlu pendekatan
strategis untuk perencanaan karir staf pemerintah yang juga meliputi kompetensi
apa saja yang diperlukan. Misalnya, pelatihan atau pendidikan apa saja yang
diperlukan oleh staf tersebut selama jenjang karirnya, semacam perencanaan
karir bagi staf yang berada di bidang pengelolaan SDA” kata Napitupulu.
Pelatihan hidrologi dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu Hidrologi 1 (dasar),
Hidrologi 2 (tentang banjir), serta Hidrologi 3 (kebutuhan dan neraca
air).
Pelatihan Hidrologi 1 memberikan pengertian mengenai dasar-dasar hidrologi dalam pengelolaan SDA. Sedangkan Pelatihan Hidrologi 2 tentang banjir memberikan pengertian umum tentang permasalahan banjir, perhitungan debit banjir dan pengendaliannya. Pelatihan Hidrologi 3 tentang erosi dan sedimentasi, peserta diberikan pengertian umum mengenai pengendalian erosi dan sedimentasi, termasuk data yang dibutuhkan untuk analisa, serta dampak erosi dan sedimentasi di Daerah Aliran Sungai (DAS) dan waduk.
Pelatihan Hidrologi 1 memberikan pengertian mengenai dasar-dasar hidrologi dalam pengelolaan SDA. Sedangkan Pelatihan Hidrologi 2 tentang banjir memberikan pengertian umum tentang permasalahan banjir, perhitungan debit banjir dan pengendaliannya. Pelatihan Hidrologi 3 tentang erosi dan sedimentasi, peserta diberikan pengertian umum mengenai pengendalian erosi dan sedimentasi, termasuk data yang dibutuhkan untuk analisa, serta dampak erosi dan sedimentasi di Daerah Aliran Sungai (DAS) dan waduk.
Di dalam membahas aspek ketersediaan
air, peserta diberikan pemahaman mengenai analisa ketersediaan air dalam
menunjang pengelolaan SDA. Selain itu diberikan pemodelan hujan dan limpasan
untuk memperpanjang data serta perkiraan parameter model jika data tidak
mencukupi serta menentukan pola operasi waduk.
Demikian juga dalam aspek hidrologi dan banjir. Peserta diberikan pengertian umum mengenai permasalahan pemodelan banjir serta simulasinya. Pelatihan pemodelan menggunakan software, seperti RIBASIM (River Basin Simulation Model) dan SOBEK, yang bekerjasama dengan Deltares Belanda dan Puslitbang Air.
Demikian juga dalam aspek hidrologi dan banjir. Peserta diberikan pengertian umum mengenai permasalahan pemodelan banjir serta simulasinya. Pelatihan pemodelan menggunakan software, seperti RIBASIM (River Basin Simulation Model) dan SOBEK, yang bekerjasama dengan Deltares Belanda dan Puslitbang Air.
RIBASIM adalah pemodelan untuk membantu menganalisa berbagai
kondisi hidrologis di wilayah sungai untuk
mendukung perencanaan SDA.
Sedangkan SOBEK merupakan paket software terpadu yang dapat digunakan
untuk pemodelan banjir sungai. Pendekatan terpadu SOBEK ini berguna untuk
perkiraan banjir, navigasi, optimasi sistem drainase, sistem irigasi dan lain
sebagainya.
Selama kurang lebih dua tahun, CDTA-7849 telah
melaksanakan 29 kali pelatihan dan
lokakarya dengan 814 jumlah peserta.
Perincian pelatihan dan lokakarya adalah sebagai berikut: Kamis, 16 Oktober 2014
(ARTIKEL) Lokakarya dan Training Pengelolaan Sumber Daya Air di Provinsi Banten
![]() |
Keterangan foto:
Suasana Lokakarya “Peraturan Perundang-undangan dan Kebijakan
Pengelolaan Sumber Daya Air (SDA)”, 14-15 April 2014 di Hotel Le Dian, Kota Serang |
Serang - Sub-dit Kelembagaan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dibantu oleh tim konsultan Capacity Development Technical Assistance (CDTA-7849-INO) melakukan lokakarya dan pelatihan di Provinsi Banten pada minggu ke tiga dan empat bulan April 2014.
Lokakarya “Peraturan Perundang-undangan dan Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Air (SDA)” dilaksanakan pada tanggal 16-17 April 2014 lalu di Hotel Le Dian, Kota Serang, diikuti 55 peserta. Sedangkan Pelatihan “Prinsip-Prinsip Perencanaan Wilayah Sungai” dilaksanakan seminggu setelahnya, yaitu pada tanggal 22-23 April 2014 di Hotel Ratu, Kota Serang, diikuti 36 peserta.
Peserta kedua lokakarya tersebut terdiri dari staf Dinas SDA & Permukiman, perwakilan BPSDA, Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian (BBWS-C3) serta Bappeda Provinsi Banten.
![]() |
|
Keterangan foto:
(Kiri) Ir. Adhi Pramudyo, MT, (kanan) Ir.TB. Rismunandar ME
|
Materi Lokakarya dan Pelatihan
Pada lokakarya “Peraturan Perundang-undangan dan Kebijakan Pengelolaan SDA”, materi yang dibahas yaitu sebagai berikut;
(1) Konsepsi Pengelolaan Sumber Daya Air Menurut UU No 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air dan PerPres No 33 tahun 2011 tentang Kebijakan Nasional Pengelolaan Sumber Daya Air
(2) Implementasi Pengelolaan Sungai Menurut PP No 38 tahun 2011 tentang Sungai
(3) Implementasi Pengelolaan Irigasi Menurut PP No 20 tahun 2006 tentang Irigasi
(4) Pelaksanaan Koordinasi Pengelolaan SDA di Provinsi dan Wilayah Sungai Menurut PerPres No 12 tahun 2008 dan Permen PU No 4/PRT/M/2008
(5) Harmonisasi Penataan Ruang dan Pengelolaan Sumber Daya Air di Wilayah Sungai dan
(6) Implementasi Pengelolaan SDA Menurut PP No 42 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air.
Sedangkan pada pelatihan “Prinsip-Prinsip Perencanaan Wilayah Sungai”, ada 7 materi yang diberikan, yaitu:
(1) Perencanaan Pengelolaan SDA WS,
(2) Pola Pengelolaan Sumber Daya Air WS,
(3) Rencana Pengelolaan Sumber Daya Air WS,
(4) Pembentukan dan Peran TKPSDA dalam Penyusunan Pola dan Rencana PSDA WS,
(5) Interaksi Perencanaan PSDA dan Penataan Ruang,
(6) Pentingnya Pembahasan Aspek Teknis Neraca Air/Alokasi Air dan Banjir dalam WS, dan
(7) Penyelenggaraan PKM dalam Penyusunan Pola/Rencana.
Provinsi Banten merupakan salah satu dari empat lokasi pilot dari Proyek Capacity Development Technical Asisstance (CDTA). Program ini merupakan program hibah dari Asian Development Bank (ADB). Pada tahun 2013 lalu, tim konsultan CDTA membantu sub-dit kelembagaan Ditjen SDA Kementerian PU melakukan pendampingan di Provinsi Aceh dan Sulawesi Utara. Sedangkan pada tahun 2014, dua provinsi pilot tambahan untuk program ini yaitu Provinsi Banten.
Untuk membantu upaya peningkatan kapasitas Pengelolaan SDA Provinsi Banten, program dan kegiatan yang dilakukan dalam kerangka program CDTA sepanjang tahun 2014 ini antara lain; Menyusun, membahas dan merumuskan SK Tim Teknis, sosialisasi Peraturan Perundang-undangan Bidang SDA di Banten serta melakukan lokakarya Prinsip-Prinsip Perencanaan Wilayah Sungai.Beberapa rencana pelatihan yang akan dilakukan di Provinsi Banten yaitu sebagai berikut; Pelatihan Ribasim dan Pemodelan, Pelatihan Flood Management dan Modelling dan pelatihan Hidrologi Dasar, Terapan dan Lanjutan termasuk Modelling.
Selain itu tim konsultan juga akan melakukan pendampingan, yaitu antara lain pendampingan penyusunan Capacity Development Action Plan (CDAP), Dinas SDAP dan BBWS-C3, Pendampingan Sekretariat TKPSDA & Dewan SDAP, Pendampingan penyusunan CDAP Dinas SDAP dan BBWS dan Pendampingan RBO Performance Benchmarking.
Unduh dokumen:
Kesimpulan Sosialisasi Peraturan Perundang-undangan dan Kebijakan Nasional Pengelolaan Sumber Daya Air
Kesimpulan Lokakarya Prinsip Perencanaan SDA Wilayah Sungai Banten
Langganan:
Postingan (Atom)













