Keterangan foto:
Bendung Pamarayan, Kecamatan Panyabrangan, Kabupaten Serang, Provinsi Banten
(16/4/14)
Sejak
pertengahan tahun 2012, kegiatan Capacity Development Technical Assistance
(CDTA 7849-INO) menyelenggarakan
berbagai lokakarya dan pelatihan terkait pengelolaan sumber daya air bersama
bagian Kelembagaan Ditjen Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum.
Lokakarya dan pelatihan ini juga dilakukan di empat provinsi yang menjadi
lokasi kegiatan yaitu Provinsi Aceh, Sulawesi Utara, Maluku dan Banten.
Peserta lokakarya adalah dinas-dinas terkait pengelolaan SDA
di provinsi dan kabupaten serta anggota TKPSDA Wilayah Sungai yang terdiri dari
unsur pemerintah dan non-pemerintah.
Sedangkan untuk pelatihan teknis, pesertanya adalah Dinas PU provinsi
dan kabupaten serta Balai/Besar Wilayah Sungai (B/BWS) dan perguruan tinggi
melalui Pelatihan Training of Trainer (ToT) untuk menyebarluaskan materi
pelatihan kepada staf lainnya.
Hidrologi dan Perencanaan
Wilayah Sungai
Ir.
Raymond Kemur, MSc, Capacity Development Specialist CDTA, menyebutkan bahwa saat ini kapasitas
staf pemerintah dalam perencanaan pengelolaan SDA di wilayah sungai secara umum
masih rendah. Sehingga perlu
pengembangan kapasitas untuk terus menerus meningkatkan kemampuan di dalam
bidang pengelolaan SDA.
Keterangan foto:
Lokakarya Pelatihan Prinsip-Prinsip Perencanaan Wilayah Sungai, Kota
Serang, Provinsi Banten (16/4/14)
Menurut Raymond, para staf pemerintah yang menguasai
hidrologi umumnya masih terbatas. Jika ada pun, jumlahnya sangat sedikit atau
sudah menjelang usia pensiun dan belum ada sistem regenerasi yang terencana. Ilmu hidrologi yang diberikan di perguruan
tinggi masih terbatas dan menurut Raymond, belum memadai untuk menjadi bekal
dalam menjalankan tugas sehari-hari di bidang pengelolaan sumber daya air.
“Pelatihan paling mendesak adalah pemberian materi hidrologi kepada
semua staf, baik
staf pemerintah, konsultan dan perguruan tinggi, karena penguasaan ilmu
hidrologi yang baik menjadi sangat penting sebagai dasar ilmu SDA” kata Raymond (17/10/14) di Jakarta.
“Selain itu yang paling mendesak adalah keahlian merencanakan
pengelolaan SDA Wilayah Sungai, yang hasilnya berupa dokumen Pola dan Rencana”
kata Raymond menambahkan.
Selanjutnya Raymond menyebutkan selain itu perlu pengembangan kapasitas bidang-bidang keahlian lainnya seperti sungai
dan bendungan, irigasi dan rawa, pengamanan pantai dan pembangkit listrik
(micro dan mini hydro serta desain waduk).
Kegiatan CDTA
Keterangan foto: Ir. M. Napitupulu, Dipl. HE,
Team Leader CDTA-7849
Menurut
Ir. M. Napitupulu, Dipl. HE, Team Leader, dalam ruang lingkup kegiatan CDTA-7849 yang
terbatas, tidaklah memungkinkan untuk memberikan seluruh pelatihan yang
diperlukan di dalam peningkatan kapasitas pengelolaan SDA.
“Karena itu agar lebih komprehensif, perlu pendekatan
strategis untuk perencanaan karir staf pemerintah yang juga meliputi kompetensi
apa saja yang diperlukan. Misalnya, pelatihan atau pendidikan apa saja yang
diperlukan oleh staf tersebut selama jenjang karirnya, semacam perencanaan
karir bagi staf yang berada di bidang pengelolaan SDA” kata Napitupulu.
Pelatihan hidrologi dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu Hidrologi 1 (dasar),
Hidrologi 2 (tentang banjir), serta Hidrologi 3 (kebutuhan dan neraca
air).
Pelatihan Hidrologi 1 memberikan pengertian
mengenai dasar-dasar hidrologi dalam pengelolaan SDA. Sedangkan Pelatihan
Hidrologi 2 tentang banjir memberikan pengertian umum tentang permasalahan
banjir, perhitungan debit banjir dan pengendaliannya. Pelatihan
Hidrologi 3 tentang erosi dan sedimentasi, peserta diberikan pengertian
umum mengenai pengendalian erosi dan sedimentasi, termasuk data yang dibutuhkan
untuk analisa, serta dampak erosi dan sedimentasi di Daerah Aliran Sungai (DAS)
dan waduk.
Di dalam membahas aspek ketersediaan
air, peserta diberikan pemahaman mengenai analisa ketersediaan air dalam
menunjang pengelolaan SDA. Selain itu diberikan pemodelan hujan dan limpasan
untuk memperpanjang data serta perkiraan parameter model jika data tidak
mencukupi serta menentukan pola operasi waduk.
Demikian
juga dalam aspek hidrologi dan banjir. Peserta diberikan pengertian umum
mengenai permasalahan pemodelan banjir serta simulasinya. Pelatihan pemodelan menggunakan software, seperti RIBASIM (River Basin
Simulation Model) dan SOBEK, yang bekerjasama dengan Deltares Belanda dan
Puslitbang Air.
RIBASIM adalah pemodelan untuk membantu menganalisa berbagai
kondisi hidrologis di wilayah sungai untuk
mendukung perencanaan SDA.
Sedangkan SOBEK merupakan paket software terpadu yang dapat digunakan
untuk pemodelan banjir sungai. Pendekatan terpadu SOBEK ini berguna untuk
perkiraan banjir, navigasi, optimasi sistem drainase, sistem irigasi dan lain
sebagainya.
Selama kurang lebih dua tahun, CDTA-7849 telah
melaksanakan 29 kali pelatihan dan
lokakarya dengan 814 jumlah peserta.
Perincian pelatihan dan lokakarya adalah sebagai berikut: